Pilpret ala Koper

Event penting ini dipanitiai oleh Koper (Komisi Pemilihan RT), dan event-nya sendiri dinamakan Pilpret (Pemilihan Pimpinan RT). Seminggu sebelum hari H Pilpret, panitia membagikan kuesioner untuk mengisi satu nama siapa yang layak menjadi kandidat ketua RT di pilpret nanti. Kuesioner dibagikan per-Kepala Keluarga. Total kuesioner yang dibagikan adalah 69 buah, sesuai dengan jumlah keluarga domisili tetap yang ada di RT.

Kuesioner yang sudah diisi dimasukkan ke dalam kotak yang tertutup dan baru akan dibuka nanti sewaktu Pilpret berlangsung. Nama-nama yang banyak ditulis di kuesioner itulah yang menjadi calon Ketua RT. Jadi sampai hari H Pilpret dilaksanakan, masyarakat RT belum tahu siapa-siapa yang jadi calon Ketua RT-nya. Mereka baru tahu ketika terjadi obrolan antar kepala keluarga, atau sekedar bisik-bisik tetangga.
‘eh, gua kan tadi nulis nama elu di kuesioner..’
’set dah, ngapain elu nulis nama gua. Gua kan kagak mau jadi ketua RT..!’

Akhirnya pelaksanaan Pilpretpun berlangsung. Seperti biasa, acara dimulai molor satu jam dari rencana semula. Setelah pembukaan, beberapa sambutan, dan laporan pertanggungjawaban Ketua RT saat ini, kotak berisi hasil kuesioner dibuka. Lima nama terbanyak hasil kuesioner akan dijadikan calon ketua RT, yang pada acara itu langsung dipilih. Menempati posisi teratas, nama ketua RT yang sekarang menjabat, dan secara otomatis menjadi calon incumbent. Sebentar, calon incumbent? Itu kalau ketua RT yang sebentar lagi menyerahkan jabatannya mau dan bersedia dicalonkan kembali. Kalau beliau secara legawa memberikan kesempatan calon lain berlaga tanpa kehadiran dirinya, ia tak akan jadi calon incumbent, mengingat ia telah menjalani tiga kali masa jabatan ketua RT, dan usianya sudah cukup lanjut, 82 tahun! Ketika ditanya mengenai hal ini oleh Ketua RW, Pak Katiman, sang ketua RT yang barusan melaporkan pertanggungjawabannya, mengangguk pelan, dan dengan tanpa ragu-ragu menuju ke bangku kandidat ketua RT yang baru. Berarti formasi calon ketua RT saat ini adalah satu calon incumbent dan empat orang calon (wajah) baru. Empat orang calon (wajah) baru itu usianya jauh di bawah Pak Katiman, usia di bawah lima puluh tahun (balita?).

Dalam kuesioner itu, Pak Katiman memperoleh 19 suara, sedangkan urutan kedua memperoleh 17 suara. Urutan kedua adalah seorang bapak bernama Abdul Hamid, yang dikenal masyarakat RT situ guyup membantu kegiatan-kegiatan yang diadakan di lingkungan RT. Abdul Hamid berasal dari sebuah keluarga penduduk asli situ (betawi), yang tergolong keluarga besar, yang terdiri dari banyak keluarga besar. Mungkin suara kuesioner yang cukup banyak itu berasal dari keluarga besarnya. Asumsi ini diperkuat dengan hasil kuesioner urutan ketiga, yaitu Hamdani, yang masih bersaudara dengan Abdul Hamid. Urutan keempat bernama Jakwan, penduduk asli Betawi, dan urutan kelima, Abdul Kadir, perantau asal Malang yang sudah menetap di RT situ sepuluh tahunan lebih.

Walaupun Abdul Hamid menempati posisi kedua perolehan hasil kuesioner, dan berpeluang bersaing ketat dengan calon incumbent, tapi sampai waktu pemilihan berlangsung, ia tak juga menampakkan batang hidungnya. Ini juga terjadi pada kandidat urutan kelima, Abdul Kadir. Ketua RW yang mengawasi jalannya proses pemilihan (pilpret) itu, memerintahkan panitia untuk membatalkan pencalonan Abdul Hamid dan Abdul Kadir. Jadi dua Abdul tak juga muncul, sehingga terdiskualifikasi.
Singkat cerita, proses pilpret malam itu akhirnya selesai pada pukul sepuluh malam lebih. Panitiapun menghitung perolehan suara Pilpret (bukan kuesioner). Seperti dugaan sebelumnya, bila Pak Katiman ‘bersedia’ untuk dicalonkan dan dipilih kembali, maka dia-lah yang berpeluang besar untuk meraih suara terbanyak. Jumlah suara pemilih calon incumbent jauh meninggalkan suara calon-calon yang lain. Ada pemeo yang muncul pada malam itu, ‘Pak RT lamanya masih mau menjabat, warga RT-nya juga masih menghendaki’. Kondisi yang klop.

Pak Katiman memang sudah berusia cukup lanjut, dan masih punya sedikit ambisi untuk berkuasa (menjabat) kembali, tapi Pak Katiman bukan gambaran yang tepat untuk kita bandingkan dengan Soeharto misalnya. Ia dipilih secara demokratis dengan sistem pemilihan secara langsung, bukan dengan rekayasa-rekayasa politik yang mencekam nuansa orde baru. Kalau ada yang ‘kurang’ dari itu semua mungkin proses regenerasi yang agak terhambat dikarenakan tiadanya kesempatan yang diberikan pada generasi muda untuk memimpin.

Terakhir, penting untuk dicatat, Koper sebagai komisi pemilihan Ketua RT cukup berhasil melaksanakan Pilpret dengan demokratis, tanpa ‘cacat DPT’ dan tingkat partisipasi yang tinggi dan masyarakat RT.

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

Rumah Saran

‘Bangunlah rumah di musim kemarau, dan ujilah di kala musim penghujan..’

Ini saran saya berkaitan dengan aktifitas membangun atau renovasi rumah, berdasarkan pengalaman saya yang masih belum seberapa. Apa salahnya membangun rumah di kala musim penghujan? Capek, mas! Pekerjaan banyak di-paused gara-gara hujan deras. Memang akhirnya bisa di-play lagi, cuman mesti nunggu lama. Misal, pas lagi gali pondasi, kedalaman belum sampai target, eh datang hujan deras. Lubang galian pondasi penuh dengan kubangan air. Ada saran pake terpal, itupun percuma, karena air hujan dengan cekatan masuk dari arah yang tidak kita duga. Misal lagi pada waktu pekerjaan pengecoran. Jadwal ngecor bisa batal gara-gara hujan deras. Apalagi ngecornya pake sistem aduk manual atau menggunakan mesin molen.

Membangun atau renovasi rumah di kala musim penghujan dari contoh-contoh yang saya sebutkan di atas akan memboroskan dana, material dan waktu pengerjaan. Bahkan ada beberapa pekerjaan dalam membangun rumah yang mensyaratkan waktu dan kondisi pengeringan yang cukup lama. Seperti pekerjaan plesteran, acian dan pengecatan. Idealnya, dinding yang baru diplester jangan langsung diaci, tapi dibiarkan kering dulu maksimal satu minggu, tanpa guyuran air hujan, baik deras maupun rintik-rintik. Ini agar unsur-unsur air yang nantinya membuat dinding lembab menguap dengan sukses dan tidak tertinggal lagi di dalam plesteran. Setelah di aci pori-pori dinding ditutup dengan rapat. Sebelum di cat, acian harus dibiarkan kering minimal satu bulan lamanya. Makin lama masa pengeringan makin bagus. Ini syarat mutlak dari sebuah produsen cat kenamaan. Kalau tidak, mereka tidak menjamin hasil cat yang berkualitas.

Kemudian pekerjaan waterproofing di dak akan berjalan efektif bila mengalami masa pengeringan selama kurang lebih tiga atau empat hari. Belum lagi, musim penghujan membuat suasana di lokasi pembangunan atau renovasi becek dan berantakan dengan cipratan air hujan di sana-sini.

Baru setelah musim kemarau lewat dan pembangunan atau pekerjaan renovasi selesai, kemudian musim penghujan datang, adalah saat yang tepat untuk menguji kelayakan kualitas rumah yang baru dibangun atau direnov. Memang, di beberapa komponen bangunan bisa diuji tak mesti menunggu waktu musim penghujan seperti waterproofing bisa dilakukan dengan tes rendam selama satu atau dua hari. Kemudian kanopi atau beberapa bagian atap bisa dicek dengan tes siram atau guyur. Dan pengujian-pengujian ini wajib hukumnya, dan jangan sampai nunggu sampai musim penghujan tiba. Istilahnya, beberapa pengujian di musim kemarau adalah babak semifinal, sementara pengujian di kala musim penghujan adalah babak final. Di babak semifinal, beberapa kesalahan kecil atau besar bisa diperbaiki dengan ‘low cost’, sementara bila sudah memasuki babak final, kesalahan yang harus diperbaiki akan mengakibatkan ‘high cost’.

Sekali lagi ini sekedar saran saya lho. Anda yang punya uang punya hak prerogatif untuk membangun atau renovasi rumah kapan saja anda mau. Apalagi kalo sudah berkaitan dengan kebutuhan yang mendesak. Terserah.

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

Ilusi Uang Kertas

Apa yang membedakan beras hari ini dengan beras sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu? Apa yang membedakan kayu saat ini dengan kayu sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu? Tidak ada yang berbeda! Wujudnya masih sama dengan unsur-unsur yang sama. Yang membedakan adalah nilai harganya yang semakin hari semakin melambung tinggi. Harga kayu saat ini adalah lima puluh kali lipat harga kayu sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Harga beras saat ini sama selisihnya dengan harga kayu.

Pertanyaannya: Mengapa harga beras, kayu, dan barang-barang yang lain bisa begitu membumbung tinggi, padahal dengan wujud dan rupa yang masih sama dan serupa dibandingkan barang yang sama sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu?

Saya mulai mempercayai apa yang dikatakan Zaim Saidi tentang ilusi uang kertas. Uang kertas adalah alat tukar transaksi yang nilainya tak sebanding dengan nilai barang yang dipertukarkannya. Bila saat ini kita membeli satu liter beras dengan uang senilai 6000 rupiah, maka nilai uang ini tidak dapat kita tukarkan dengan barang yang sama sepuluh tahun berikutnya! Ada apa gerangan, apa yang menyebabkannya? Uang kertas adalah alat tukar transaksi yang disepakati oleh negara-negara modern yang mendasarkan kehidupan perekonomiannya pada transaksi perbankan dan pasar modal. Ia berfungsi layaknya sebagai ’surat janji hutang’ dalam khazanah perekonomian Islam klasik. Surat janji hutang dalam Islam diperkenankan dalam kondisi mendesak dan berlaku hanya untuk sementara waktu. Bila ia ditetapkan untuk dipakai selamanya dalam transaksi keseluruhan, maka akibatnya seperti yang terlihat saat ini, nilainya senantiasa berubah dan terus naik mengikuti suku bunga, tingkat inflasi dan transaksi perbankan.

Zaim Saidi menyarankan agar kita bertransaksi menggunakan keping dinar dan dirham. Ide yang cukup bagus dan revolusioner, tapi sangat susah untuk dilaksanakan.

Tags: ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments
 Page 1 of 2  1  2 »